Breaking News

Jualan Jamu Secara Online, Membuat Sundari Mampu Bertahan

satumenitnews.com Desa Semayu Kecamatan Selomerto merupakan salah satu sentra pembuat jamu tradisional yang cukup dikenal di Wonosobo sejak puluhan tahun silam. Sundari, salah satu pembuat jamu mengaku selama pandemi omzetnya menurun. Pemasaran online menjadi jalan keluar mengatasi penjualan jamunya yang menurun selama wabah covid-19.

Jualan Jamu Secara Online, Membuat Sundari Mampu Bertahan

Jualan Jamu Secara Online, Membuat Sundari Mampu Bertahan

WONOSOBO- Salah satu pelaku pembuat jamu tradisional warga Desa Semayu, Sundari menerangkan bahwa awal mula pembuat  jamu di Desa Semayu adalah Suparmi Marnoto yang merupakan ibu kandungnya. Sekitar tahun 1980, ibunya mempelajari cara membuat jamu dari Mbah Murti, warga asli Solo yang bermukim  di Semayu. Dia mengaku ilmu pembuatan jamu kemudian diwariskan kepadanya.

"Pertama kali pembuat jamu di Desa Semayu ya ibu saya, dulu harga jamu masih Rp 100 per bungkus mas," kata Sundari, Jumat (18/09).

Sundari menjelaskan, ada beberapa jenis jamu yang dibuat dan dijualnya, seperti kunyit asem,beras kencur, paitan, lempuyang, brontowali, jamu uwuh, temu lawak dan lainya. Bahan baku pembuatan jamu didapatnya dari Solo dan petani lokal Wonosobo. 

"Beberapa bahan saya ambil dari Solo, sebagian lagi saya ambil dari Wonosobo, untuk bahan baku saya tidak kesulitan," ujarnya.

Penjualan jamunya terpengaruh dengan adanya pandemi, turun hanya sekitar 25 persen, penjualan secara online membuatnya mampu bertahan.

"Untuk saat ini penjualan agak menurun sekitar 25%, artinya tidak ada dampak yang siknifikan dalam selama masa pandemi ini. Menjual secara online membantu saya bisa bertahan," pungkas Sundari. (Budilaw-79).

Tidak ada komentar

Terbaru

Kesulitan Akses, Petani Salak Banyukembar Swadaya Bangun Jalan

WONOSOBO - Selama bertahun-tahun merasakan kesulitan untuk menjangkau kebun melalui jalan setapak yang rawan dan licin saat hujan melanda, t...