Breaking News

Asal Ditata Rapi, PKL Bisa menjadi Daya Tarik Pariwisata Di Wonosobo

OPINI Oleh Malindra Anji

Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah pedagang kaki lima atau sering disingkat PKL, istilah PKL ini sedang hangat di perbincangkan di Kabupaten Wonosobo. Banyak pro kontra tentang penataan dan pengaturan mengenai profesi ini, mereka dituduh sebagai biang keladi yang membuat pemandangan terkesan semrawut dan identik dengan masyarakat yang tidak tertib. Namun begitu ada pula sebagian masyarakat ataupun pejabat yang memandang PKL sebagai salah satu alternatif pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Asal Ditata Rapi, PKL Bisa menjadi Daya Tarik Pariwisata Di Wonosobo
Zona PKL kuliner di Wonosobo yang masih terkesan apa adanya

Asal Ditata Rapi, PKL Bisa menjadi Daya Tarik Pariwisata Di Wonosobo

Dari berbagai literasi yang saya baca, sejarah panjang istilah PKL dimulai saat Napoleon menjajah dan menguasai Eropa serta negara-negara Asia. Sedangkan di Indonesia tercatat sejak zaman Belanda ketika Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816) berkuasa, Raffles memerintahkan semua gedung di jalan utama di Batavia diwajibkan membangun fasilitas untuk para pejalan kaki, kini dikenal dengan nama trotoar dengan tinggi 31 cm dari permukaan jalan raya. Sedangkan lebarnya five feet atau sekitar 152 cm. Trotoar tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh para pedagang keliling untuk menjajakan dagangannya. Sambil menunggu pembeli, terkadang mereka mangkal di trotoar. Dari istilah trotoar five feet atau lima kaki inilah maka mereka kemudian disebut pedagang kaki lima.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pedagang kaki lima memang merupakan sebuah daya tarik bagi Indonesia, khususnya Wonosobo yang sedang mengembangkan Pariwisata. Apalagi soal makanan, kini makin berkembang saja kreasi makanan yang dijual oleh para pedagang. Itulah kenapa banyak orang yang bilang kalau makan di kaki lima itu lebih enak dari restoran. Selain harganya yang terjangkau, entah kenapa bumbu dan segala bahan yang digunakan membuat makanannya jadi lebih enak, padahal jelas lebih higienis di restoran.

Dalam catatan Historia, dagangan yang termasuk dagangan kaki lima adalah barang kelontong, obat-obatan, buku-buku, dan mainan anak. Sedangkan dagangan makanan baik yang menggunakan gerobak atau dipikul disebut dagang rakyat. Kini, dengan berkembangnya zaman pedagang kaki lima banyak yang menggunakan kendaraan roda 2, hingga roda empat yang dimodifikasi.

Dari catatan sejarah terbukti PKL memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat, namun begitu perlu penataan agar kesan semrawut dan kumuh bisa dihilangkan sehingga dapat menjadi alternatif kegiatan Pariwisata. Terutama dari sisi kuliner seperti Mie Ongklok yang legendaris di Wonosobo. Karena konon katanya mie ongklok dari Pedagang Kaki Lima rasanya lebih mantap daripada yang direferensikan restoran, dari segi harga juga tergolong lebih murah.

Tidak ada komentar

Terbaru

H. Suwondo Yudhistiro, S.Sos. M.Ag., Mengucapkan Selamat

H. Suwondo Yudhistiro, S.Sos. M.Ag., Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Wonosobo mengucapkan selamat atas dilantiknya H. Afif Nurhidayat, S.Ag. d...